Selasa, 02 Maret 2010

the notes part 4 - "Di Buku itu"


Sekarang aku sudah kelas 3 SMA, saatnya untuk belajar serius biar bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan. Tapi kenyataannya, malah aku semakin sering main dan jarang pernah ada di rumah. Untunglah nilaiku ga terlalu jelek sampai aku lulus. Menjadi anak kelas 3 juga membuatku menjadi jumawa, terfikir olehku untuk nembak cewe, siapa aja mulai dari kelas 1, 2 dan 3. Aku jomblo saat itu dan aku masih saja mengingat Wita yang entah dimana dia saat itu, kembali melakukan hal yang terbilang konyol, duduk berjam-jam menanti Wita datang di depan rumahnya. Aku pengen ngelupain Wita, dan mungkin salah satu caranya adalah membuka hati lagi untuk cewek lain seperti yang aku bilang tadi, tapi dengan cara ala ABG yang jumawa.

Sasaran pun udah ku tentukan,anak kelas 3 namanya Nina, anak kelas 2 ga ada, dan anak kelas satu namanya Icha. Nina menolakku, kemudian aku langsung mendekati Icha. Waktu itu aku tahu tentang Icha dari teman sekelasku, Irwan. Irwan memang sedang mendekati Icha, dia bilang Icha adik kelasku saat masih di SMP dulu dan sering ada dibelakangku dan Wita saat pulang sekolah. Aku pelupa, ya memang itulah salah satu kelemahanku. Untuk membuatku teringat siapa sosok Icha sebenarnya Irwan mengajakku bertemu dengannya.

Setelah pertemuan itu aku ingat siapa Icha, temanku yang bernama Bio pernah bilang bahwa di SMP dulu ada adik kelas yang cantik bernama Icha, tapi waktu itu aku hanya tertarik pada Wita. Irwan sering cerita kepadaku tentang kedekatannya dengan Icha, dan aku hanya menyimaknya saja, sesekali memberikan sedikit saran kepada Irwan seolah-olah aku ini sangat ahli dalam urusan seperti ini. Hampir setiap hari aku menjadi penyampai pesan salam dari Irwan untuk Icha, kadang Irwan tidak minta pun aku kirimkan salam untuk Icha dengan maksud bercanda. Tapi tak lama setelah dia dekat, Irwan bilang padaku untuk mengurungkan niatnya mendekati Icha, entah apa alasannya. “Jadi sekarang gw bisa masuk nih wan?”, kataku. Irwan pun mengiyakan. Sejak saat itu aku mulai mendekati Icha. Beberapa lama pendekatan, aku menembaknya di cafĂ© lantai atas sebuah mall. Untungnya waktu itu adalah hari rabu, Icha pernah bilang padaku bahwa hari rabu itu hari baik, entah kenapa dia berfikir seperti itu. Mungkin ada benarnya untukku, dia menjawab “iya” saat itu. Hubungan kami ya seperti orang biasanya, ribut dan tawa itu bergantian.

Suatu saat aku berfikir bahwa pasti ada sesuatu hal yang tidak bisa atau sulit untuk diungkapkan, makanya terlintas olehku untuk menulisnya di sebuah buku dan dia membacanya kemudian memjawabnya. Buku hijau itu yang aku maksud. Di buku itu kami menuliskan apa yang ingin kami sampaikan satu sama lain. Sampai suatu hari saat aku datang ke rumahnya untuk mengambil buku itu karena hari ini giliranku untuk membalas apa yang dia tulis dan menuliskan apa yang ingin aku katakan padanya. Ada hal yang tidak biasa saat itu, salah satu jari di tangan kanannya terluka dan dia melarangku membaca buku hijau itu langsung, “bukunya dibaca di rumah aja ya!”, pintanya padaku. Dengan penuh penasaran aku diam-diam membuka setiap halaman dari buku itu saat dia menuju dapur untuk menyiapkan segelas teh untukku. Aku buka buku itu disetiap halamannya karena kami menulisnya dengan acak. Benar-benar mengejutkanku, ada tulisan “I LOVE U” di salah satu halaman di buku itu. Aku terkejut karena tulisan “I LOVE U” itu tidak ditulis dengan tinta tapi dengan darah, aku tahu itu adalah darah, ya aku yakin itu darah. Kututup kembali buku itu seketika dia kembali mengantarkan segelas teh hangat untukku. Untuk sekedar memastikan, aku bertanya padanya, “tangan kamu kenapa?”, “tadi kena pisau pas lagi bantuin ibu masak”, jawabnya.

Aku langsung bergegas ke rumah seorang sahabat untuk menanyakan apa yang harus aku lakukan dengan tulisan ini. Sahabat itu bilang bahwa aku harus serius dengan Icha dan jangan pernah mempermainkannya, dan aku turuti apa kata sahabatku itu. Sejak tulisan itu ada, aku selalu berusaha untuk membuat Icha senang, walau terkadang pertengkaran itu datang. Aku sangat mempercayainya, apapun yang orang katakan. Bahkan pada suatu hari sahabatku tadi memberitahuku bahwa Icha sedang jalan dengan Boy, yang kutahu Boy adalah sahabat Icha yang kebetulan juga adalah teman sekelasnya. “mereka cuma sahabat man”, kataku. Dan banyak kabar-kabar lain yang menyudutkan Icha yang kudengar dari teman-temanku, tak pernah aku hiraukan.

Suatu sore saat aku akan menjemput Icha, saat itu Icha ada les tambahan di sekolah, terjadi pertengkaran diantara kami, hingga membuat hubungan kami berakhir. Sempat aku singgung tentang Boy, tapi Icha menepisnya. Ternyata setelah beberapa lama kami putus, Icha jadian dengan Boy, bahkan hingga saat ini. Tak banyak yang bisa aku lakukan, aku hanya akan mendoakan kebahagiaan mereka. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar