Selasa, 02 Maret 2010

the notes part 3 - "Babi - Ngepet"


Senang rasanya masuk ke SMA yang kita idamkan. Aku lulus ke SMA yang termasuk salah satu SMA terbaik di Lampung. Ya setidaknya itu bisa menghiburku setelah kepergian Wita ke Bengkulu tanpa kabar darinya. Aku juga tahu hal itu dari Lili. Terkadang ketika pulang sekolah, aku sempatkan untuk ke depan rumah lamanya, entah apa yang aku lakukan tapi dengan begitu aku merasa bisa sangat dekat dengannya walaupun aku tidak tahu keberadaannya sekarang dan nomor telpon yang bisa aku hubungi. Kadang beberapa menit sudah cukup, kadang hingga 1 jam lebih aku betah menatap depan rumahnya.

Sekolah baru, ya teman baru. Aku duduk bersebelahan dengan Ricky, dia berkacamata dan lulusan sebuah SMA di Jakarta. Pada awalnya aku mengira dia sangat pintar, hal itulah yang memotifasiku untuk belajar dengan giat. Ternyata, maaf bukan maksud menjelek-jelekkan dia, dia tidak sepintar yang aku kira. Mungkin pelajaran bukan keahliannya, tapi kemampuan bermusiknya sangat baik. Aku pun berniat membentuk band dengannya, sambil mencari-cari personel lain. Teman-temanku satu per satu kami ajak bermain di studio dekat sekolah, hingga akhirnya kami menemukan personel lain yang cocok, yaitu Wiryawan, bagi kami bertiga sudah cukup untuk membangun sebuah band, aku pada vocal dan bass, Wiryawan pada vocal dan gitar, dan Ricky pada drum. Saat itu music punk yang sama-sama kami sukai, akhirnya mencari influence seperti Blink182, GreenDay, Rancid, SID, dan lain-lain. Sudah sangat sering kami mengikuti Festival dan Pagelaran music bahkan Pensi sekolah-sekolah dan kampus-kampus.

Okeh, kembali kita bicarakan suasana kelas. Tia, cewek itu duduk tepat didepanku. Entah kenapa kami selalu bertengkar, dan hal itu sudah seperti hal yang biasa bagi kami ataupun teman sekelas lainnya. Pernah suatu saat dia mengejekku babi, sambil berfikir nama hewan apa yang cocok untuk membalas ejekkannya. Terlintaslah nama “ngepet” di otakku, aku mengejekknya begitu. Mungkin karena terlalu sering aku mengejeknya dengan sebutan itu, hingga teman-teman satu sekolah memanggil Tia dengan sebutan itu. Tampaknya Tia pun enjoy dengan panggilan barunya. Hahaha

Hubunganku dan Tia mulai membaik ketika kami sudah kelas 2, mungkin karena kami terpisah kelas dan kesepian ga ada yang bisa diajak berantem lagi satu kelas. Suatu hari pas jam istirahat Tia menghampiriku, entah kenapa dia berubah, mungkin dia sedang ada masalah. Hmm, ternyata benar, dia menjadikanku teman berbaginya untuk menceritakan semua uneg-unegnya. Hampir setiap hari kami ngobrol asik di taman sekolah, sampai gossip itu pun berhembus. Ya, gossip tentang aku dan Tia, gossip itu pun sudah menyebar di sekolah. Banyak yang bertanya apakah kami udah jadian atau belum.

Pernah saat jam istirahat, yang biasanya aku habiskan di kantin belakang sambil menghisap rokok Sampul Mild, hari itu Tia ga datang ke kelasku untuk ngobrol lagi. Akhirnya aku berinisiatif untuk datang ke kelasnya. Hmm, aku dapet alasan yang bagus, aku akan mengambil pin-up Blink182 yang Tia janjikan. Di sela-sela pembicaraan kami, Tia bilang ma aku, “Rey, kita digosipin ma anak2, kita pura-pura jadian tuk? Mau ga?”, tanpa berfikir panjang, aku langsung bilang, “hmm, gw ga mau boongan ah, gw maunya beneran! Gimana?”, “ih serius lo Rey? Janji ya?”, jawab Tia.

Sejak hari itu aku dan Tia jadian, hubungan terlucu yang pernah aku jalani. Ya, teman berantemku waktu kelas 1 malah jadi pacarku sekarang. Seminggu pertama setelah kami jadian, setiap hari Tia selalu bertanya padaku apakah aku serius dengannya, dan selalu kujawab dengan jawaban yang sama, “iya, aku serius kok”. Ada hal lucu yang sampai sekarang aku ingat, waktu itu, setiap hari kami sering bales-balesan surat, padahal jarak kelas kami ga begitu jauh. Surat itu kami tulis setelah pulang sekolah dan kami saling bertukar surat keesokan harinya. Setiap jam istirahat aku langsung menuju ke kelasnya untuk sekedar ngajak Tia makan atau ngobrol, dan saat pulang sekolah aku antar Tia pulang ke rumahnya, kebetulan saat itu aku baru dibelikan motor.Hehehehe

Tapi entah kenapa teman-teman dekatku banyak yang ga setuju dengan hubungan kami, banyak diantara mereka yang menyuruhku untuk segera mutusin Tia. Wah, aku bingung, baru kali ini pikiranku dan teman-teman bertentangan. Salah satu temanku, biasa dipanggil Begal, dia termasuk salah satu dari temanku yang tidak setuju dengan hubungan kami. Pernah dia mencoba mengenalkanku dengan sepupunya waktu itu, Tiwi namanya. Tiwi cantik, pintar dan dari sekolah nomor satu waktu itu. Jujur, aku tertarik dengannya.

Setelah beberapa hari, hubunganku dengan Tiwi semakin dekat, dan aku semakin tidak memikirkan perasaan Tia waktu itu kalo dia tahu ternyata aku dekat dengan cewek lain. Bajingan, mungkin sebutan itu yang bakal keluar dari mulut Tia untukku. Ah, khilaf ini semakin membutakanku. Sampai pada suatu saat ketika aku dan teman-temanku dari klub motor buatan kami sendiri sedang ngumpul, mereka menyorakiku, “putusin Tia! Putusin Tia!”, hahahaha. Saat itu juga aku kabulkan permintaan mereka. Kami rame-rame dateng ke rumah Tia dan kebetulan Tia ada di rumah. Dengan sangat tidak berperasaan, aku memutuskannya begitu saja. Setelah kejadian itu seperti tanpa dosa, aku langsung pergi dengan teman-temanku.

Tapi syukur, hubunganku dengan Tia tidak menjadi buruk setelah kejadian itu, kami tetap berteman, tapi dia semakin lama semakin jarang mau cerita lagi denganku, kadang hanya senyum yang dia tunjukkan padaku saat kami berpapasan. Dan aku melanjutkan hubunganku dengan Tiwi, hingga akhirnya Tiwi memutuskan untuk tidak menerimaku, entah apa alasannya.
Menyesal? Ya, aku sangat menyesal udah nyakitin Tia demi teman-temanku dan untuk mendekati Tiwi, yang akhirnya Tiwi meninggalkanku begitu saja. Aku pikir, mungkin ini karma yang harus aku terima setelah aku menyakiti Tia. Sampai detik ini aku belum pernah lagi bertemu Tia setelah acara kelulusan. Banyak kabar yang aku dengar tentang Tia bahwa dia udah pindah lagi ke Padang, kota asalnya. Dan ada juga yang bilang kalo Tia udah nikah dengan orang lain. Aku ingin membuktikan kabar itu dengan mencoba datang ke rumahnya, ternyata Tia dan keluarganya udah ga tinggal di rumah itu lagi. Sampai detik ini aku ingin bertemu dengan Tia hanya untuk meminta maaf padanya karena kebodohanku waktu itu. Hmm, kenangan dengan “si ngepet” yang sangat meninggalkan rasa bersalah buatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar