Hubunganku dengan Tasya sudah berakhir, kami hanya sebatas sahabat yang kadang saling berbagi cerita. Aku sudah masuk ke Universitas seperti yang aku harapkan, walaupun masuk jurusan ekonomi bukanlah kemauanku melainkan kemauan orang tuaku. Jujur, aku lebih berminat masuk sekolah seni rupa atau bahkan politik sekalian, karena kedua bidang itulah yang aku senangi. Ya, demi membahagiakan orang tua, aku menuruti kemauan mereka untuk masuk ke jurusan ini. Lingkungan baru, teman baru, kegiatan baru. Aku ingin menjadi mahasiswa yang aktif di kampusku pada saat itu, mengikuti UKM-UKM di kampus. Tapi kenyataannya sekarang aku justru tidak lagi berminat mengikuti kegiatan-kegiatan kampus yang membosankan.
Suatu hari aku sedang menghadiri pertemuan sebuah UKM kampus, tiba-tiba hp ku bergetar pertanda ada sms yang masuk. Setelah ku baca sms itu bukan hanya hp ku yang bergetar, tapi tubuhku pun bergetar bahkan sampai ditegur pimpinan rapat karena aku terlihat asik sendiri tanpa mempedulikan apa yang beliau katakan dari depan ruangan itu. Sms itu adalah sms dari Wita, cewek yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Aku sangat tidak percaya Wita tahu nomor hp ku dan mengirimkan sms padaku untuk pertama kali setelah dia pergi tanpa kabar waktu itu. Untuk memastikan apakah sms itu benar dari Wita, aku langsung menelponnya setelah pertemuan itu selesai. Aku yakin itu Wita, aku masih mengenali suaranya, walaupun sudah sedikit berbeda, ya mungkin karena sekarang dia sudah dewasa.
Sejak saat itu, kami sering sms-an, sesekali aku menelponnya, padahal waktu itu untuk menelpon menggunakan hp berbeda operator termasuk mahal. Sekali aku mengejutkannya, aku masih ingat kapan dia ulang tahun dan cerita saat dulu kami masih SMP. Memang ingatan itu tak bisa pergi begitu saja dan selalu ada diingatanku, masa-masa SMP yang dulu aku lewati dengannya. Hubungan kami semakin hari semakin dekat, hingga akhirnya kuputuskan untuk menembaknya kembali dan akhirnya kami jadian lagi. Beberapa bulan berjalan, aku merasa sulit menjalani ini, disatu sisi aku sibuk, disisi lain ada wanita yang harus aku perhatikan. Aku putuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Wita. Satu bulan lebih kami tidak berhubungan sejak aku memutuskan hubungan kami. Akhirnya aku menyadari bahwa aku tak bisa melepaskan Wita begitu saja, aku mengajaknya untuk kembali berpacaran dan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Hubungan kali ini aku rasakan memang berbeda. Aku semakin merasakan keseriusannya dan aku pun harus menunjukkan keseriusanku padanya.
Suatu hari Wita bilang padaku, “kamu mau ga bilang sama mama-papa aku kalo kamu serius sama aku?”. Terdiam sejenak sambil berfikir apakah kali ini Wita benar-benar ingin sebuah hubungan yang serius, dan akhirnya aku meng-iya-kan permintaannya. Entah darimana inisiatif itu datang, aku memberikannya sepasang cincin untuk kami berdua dan benar-benar aku lakukan apa yang dimintanya, aku berbicara tentang keseriusanku pada orangtua Wita. Sejak saat itu hubungan kami semakin membaik, dan aku pun semakin mencintainya. Hal yang paling kusuka dari Wita adalah kejujurannya, walaupun kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi jauh lebih baik aku mengetahuinya langsung dari Wita. Wita lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah di luar negeri, berat bagiku, jarak dari Bandung ke Palembang saja sudah jauh, apalagi harus berbeda negara. Aku pun tak hentinya menyakinkan Wita bahwa kuliah di negara sendiri lebih baik dan banyak universitas di Indonesia ini yang bagus dan berstandar internasional, tapi Wita tetap pada pendiriannya. Ok, aku tidak bisa memaksakannya lagi, itu keinginannya dan aku percaya Wita bisa menjaga semua yang sudah kami bisa selama kurang lebih dua tahun ini.
Beberapa bulan pertama Wita kuliah di luar negeri hubungan kami tetap baik, sampai pada suatu malam Wita bilang padaku bahwa dia menyukai salah satu teman lelakinya yang kuliah dikampus yang sama dengannya. Jujur, itu menyakitkan tapi aku berusaha untuk terus bertahan dan memberikannya waktu untuk bisa mengambil keputusan akan melanjutkan hubungan kami atau dengan cowok itu. Syukur Wita memilihku, tapi sejak saat itu aku sangat takut hali ini terulang lagi, bahkan mungkin aku menjadi cowok yang sangat posesif. Selalu saja ada kecurigaan yang muncul di otakku dan akhirnya hubungan kami pun semakin buruk. Kami sering putus-nyambung dan sering bertengkar, tapi tak satupun kata-kata “putus” itu keluar dari mulutku, karena bagaimanapun aku sudah berjanji padanya bahwa aku tidak akan meninggalkannya.
Hingga akhirnya, kurang lebih tiga tahun hubungan kami berjalan, perpisahan itu adalah ujungnya. Berat memang, hubungan yang kuyakini harus berakhir begitu saja. Meskipun setelah itu aku terus berusaha untuk membawanya kembali padaku, tapi tetap hasil itu nihil.






