Selasa, 02 Maret 2010

the notes part 2 - "Love at the First Sight"


Hari pertamaku duduk di kelas 3 SMP, kebetulan hari itu pun banyak anak kelas 1 yang baru masuk. Suatu hari entah kenapa aku yang biasanya menggunakan sepeda tuaku untuk berangkat ke sekolah, memilih berjalan kaki. Tak lama, aku melihat ada cewek cakep. Aku lihat bet sekolahnya, ternyata dia kelas 1 disekolahku. Wah, aku merasakan hal yang sangat luar biasa yang belum pernah aku rasakan. Mungkin ini yang orang bilang “Love at the First Sight”.
Besoknya, aku yang biasanya ga pernah pake jam tangan, pake jam tangan dan berangkat pagi sekali lalu duduk menunggu cewek itu keluar dari komplek rumahnya yang kebetulan bersebelahan dengan komplek rumahku. Beberapa menit kemudian cewek itu keluar, aku langsung melihat jam dan langsung mengingat kapan cewek itu berangkat ke sekolah, jam 06.30. Ya, itu yang aku ingat. Cewek itu selalu berangkat berdua dengan anak kelas 2 yang ternyata adalah tetangganya. Aku ikuti mereka dari belakang seperti seorang detektif yang mencoba mencari informasi, sesekali aku menguping apa yang mereka bicarakan dengan berharap aku dapat informasi yang berguna.

Setelah beberapa hari aku selalu memperhatikan cewek itu, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya. Kebetulan aku kenal dengan anak kelas 2 yang selalu berangkat ke sekolah bersama cewek itu, Lili namanya. Obrolan dan canda garing mulai kukeluarkan berharap bisa membuat suasana saat itu tidak terkesan menegangkan bagiku. Perkenalan itu pun akhirnya terjadi. “hai, gw Gugun, lo anak kelas 1 ya? Nama lo siapa?”, kataku. Cewek itu jawab, “Wita, iya gw kelas 1”. Wah seneeeng banget rasanya padahal Cuma baru tahu namanya.

Obrolan itu pun berlanjut untuk beberapa hari, hingga akhirnya aku putuskan untuk menyatakan apa yang aku rasakan. Dengan persiapan yang kuanggap matang, aku meminta temanku, Boim untuk menemaniku menjalankan rencanaku, dan ia pun setuju untuk membantuku. Pagi-pagi sekali aku menunggu di jalan yang biasa kami lewati untuk berangkat ke sekolah. Ah, Wita akhirnya datang juga, dengan diiringi detak jantung yang semakin ga karuan, aku lalu mendekatinya. “Wit, gw suka ama lo, lo mau ga jadi cewek gw?”, kataku. Wita Cuma diam sambil menundukkan kepalanya. Aku tanya lagi, “Wit, gw suka ama lo, lo mau ga jadi cewek gw?”, dia masih diam. Lalu aku langsung ke depan wajahnya sambil kedua tanganku memegang bahunya, “Wit, gw suka ama lo, lo mau ga jadi cewek gw?”, kataku untuk ketiga kalinya. Akhirnya Wita menjawab perkataanku, “iya, gw mau”. Lega aku mendengar jawabannya. Entah karena aku bodoh atau memang aku sangat tidak berpengelaman, setelah mendengar jawabannya aku langsung pergi duluan menuju sekolah dengan Boim. Tepat 1 bulan kami berpacaran, Wita memutuskan hubungannya denganku.

Setelah putus beberapa hari, anak kelas 2 tetangga Wita yang selalu berangkat sekolah bareng Wita mengahampiriku saat jam istirahat sekolah. Dia bilang, “ Gun, Wita pengen balikan tuh sama lo, lo mau ga? Kalo mau, nanti pulang sekolah lo tembak dia aja lagi”. Aku jawab, ”wew, kalo dia yang mau balikan ya dia yang ngomong lah, masa gw yang ngomong”. Lili bilang lagi, “lo mau ga? Kalo ga mau yaudah deh”. “eh iya deh gw mau”, jawabku. Pulang sekolah aku menunggu Wita di gerbang sekolah. Aku ngomong lagi deh, aku mau balikan dengan dia. Akhirnya kami berpacaran untuk waktu yang lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar