
Gugun, itu namaku. Sekarang aku sudah menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung, kota kelahiranku. Detik demi detik aku lalui dengan kesendirian. Entah kenapa, justru aku menikmatinya sejak saat itu. Sejak saat itu? Nanti aku ceritakan apa yang terjadi saat itu. Bukan memuji, tapi inilah aku. Aku humoris, penuh tawa, sering melakukan hal gila, bahkan sampai terlalu gila terkadang aku menyakiti perasaan teman-temanku. Aku dibesarkan di sebuah kota di Sumatra, Lampung tepatnya. Ayahku bekerja di sana, kami sekeluarga pun ikut pindah ke Lampung.
Pada saat itu, aku masih berseragam SMP. Aku bersama kedua temanku, Bio dan Erick, ikut bimbel disebuah lembaga bimbel di Lampung. Kebetulan Bio satu sekolah denganku, dan Erick, aku mengenalnya dari Bio. Kami yang tidak tahu apa-apa langsung saja duduk di barisan tengah sebelah kanan dekat jendela dari lantai 2, yang memang enak karena angin berhembus begitu terasa di Lampung yang panas. Tiba-tiba ada 3 orang cewek yang langsung menghampiri kami, dengan tampang marah, mereka bilang, “kalian ngapain duduk disini? Ini tempat kami duduk!”. Bio tiba-tiba menjawab, “kami duduk disini saat kelas masih kosong, jadi ngapain pindah hanya karena kalian? Toh, kami bayar juga seperti kalian, jadi kami punya hak yang sama, kami berhak memilih tempat duduk!”, aku bilang, “udahlah kita ngalah aja, mereka perempuan io”. Bio kembali menjawab, ”kita disini duluan Gun, jadi kenapa harus pindah, kita punya hak milih dimana kita duduk”. Okeh, setelah kejadian itu kami tidak pernah berhubungan baik dengan ketiga cewek itu, hingga suatu hari tanpa disengaja kami naik angkutan umum yang sama dengan ketiga cewek tadi, perbincangan pun dimulai. Entah kenapa tiba-tiba terjadilah obrolan yang seru, kita juga saling tukar nomor telepon, waktu itu yang menggunakan hp masih hanya orang-orang kaya, jadi kita bertukar nomor telepon rumah.
Beberapa minggu setelah itu hubungan kami semakin dekat. Bio yang pertama kali berpacaran dengan salah satu cewek tadi, Astri namanya. Lalu aku dekat dengan Tari dan Erick dengan Ika. Bio yang mengajariku bagaimana untuk menyatakan perasaan kita ke cewek, maklum aku kan belum pernah begitu sebelumnya. Dengan modal duit seribu yang saat itu masih sangat berarti, aku telpon Tari, lalu ngomong apa yang Bio ajarkan kepadaku. Akhirnya kami jadian. Dari kami hanya Bio yang hubungannya bisa bertahan lama. Dan yang tersingkat Erick dengan Ika, hanya 1 minggu. Setelah beberapa lama, aku kembali berhubungan dengan Tari, hingga akhirnya hubungan itu menggantung begitu saja, karena kami jarang sekali bertemu lagi. Malam itu, komplek rumahku dapat giliran pemadaman listrik. Orang tuaku menyuruhku membeli lilin di warung, dengan perasaan kesal karena aku malas disuruh-suruh, aku pergi dengan kencang diatas sepeda tua satu-satunya yang tersisa setelah beberapa kali aku merusak sepedaku. Saat perjalanan pulang tiba-tiba setang sepedaku lepas dan aku pun terjatuh, kecelakaan yang memberi bekas pada bibirku sampai sekarang Karen mencium aspal jalanan yang memang lebih keras dari kemarahanku.
Aku tidak masuk sekolah untuk beberapa hari dan Ayahku yang datang langsung ke sekolahku untuk menyerahkan surat izin aku tidak masuk sekolah. Aku merasakan hal yang luar biasa, ternyata teman-teman sekelas menjengukku ke rumah. Aku tersanjung dengan kedatangan mereka yang bermaksud menjengukku. Hebat, ternyata teman-temanku memperhatikanku. Kemudian, sekumpulan cewek yang termasuk cewek-cewek cantik di sekolahku pun menjengukku, kebetulan aku kenal dengan mereka. Disela-sela pembicaran kami, ada satu cewek yang berbisik padaku, “Gun, kamu mau ga sama Arumi?”, aku kaget, “ah, dia kan teman buatku, sama seperti kalian”, jawabku. Lalu kembali dia bisikkan kepadaku, “ lo milih pacaran sama Arumi atau ga lagi berteman dengan kami?”. Wew, aku kaget mendengar perkataan itu, akhirnya aku meng-iya-kan penawarannya.
Pulang sekolah aku ngomong dengan Arumi, dia pun menerimaku. Ternyata hubungan kami hanya bertahan beberapa bulan. Jujur, aku tidak bisa mencintai orang yang sudah kuanggap teman. Waktu itu hari pertama setelah libur panjang, Arumi datang ke kelasku. Dia bilang, “Gun, kita putus aja ya? Aku ga suka sama cowok yang rambutnya botak”. Karena waktu liburan di Bandung, aku memotong rambutku botak untuk pertama kalinya. Haha, lucu memang, alasan putus hanya karena rambutku yang botak. Tanpa berfikir panjang aku meng-iya-kan kata-katanya, lalu aku meneruskan bermain dengan temanku di kelas seperti tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar