Selasa, 02 Maret 2010

the notes part 6 - "Dia yang Kembali, lalu Pergi"


Hubunganku dengan Tasya sudah berakhir, kami hanya sebatas sahabat yang kadang saling berbagi cerita. Aku sudah masuk ke Universitas seperti yang aku harapkan, walaupun masuk jurusan ekonomi bukanlah kemauanku melainkan kemauan orang tuaku. Jujur, aku lebih berminat masuk sekolah seni rupa atau bahkan politik sekalian, karena kedua bidang itulah yang aku senangi. Ya, demi membahagiakan orang tua, aku menuruti kemauan mereka untuk masuk ke jurusan ini. Lingkungan baru, teman baru, kegiatan baru. Aku ingin menjadi mahasiswa yang aktif di kampusku pada saat itu, mengikuti UKM-UKM di kampus. Tapi kenyataannya sekarang aku justru tidak lagi berminat mengikuti kegiatan-kegiatan kampus yang membosankan.

Suatu hari aku sedang menghadiri pertemuan sebuah UKM kampus, tiba-tiba hp ku bergetar pertanda ada sms yang masuk. Setelah ku baca sms itu bukan hanya hp ku yang bergetar, tapi tubuhku pun bergetar bahkan sampai ditegur pimpinan rapat karena aku terlihat asik sendiri tanpa mempedulikan apa yang beliau katakan dari depan ruangan itu. Sms itu adalah sms dari Wita, cewek yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Aku sangat tidak percaya Wita tahu nomor hp ku dan mengirimkan sms padaku untuk pertama kali setelah dia pergi tanpa kabar waktu itu. Untuk memastikan apakah sms itu benar dari Wita, aku langsung menelponnya setelah pertemuan itu selesai. Aku yakin itu Wita, aku masih mengenali suaranya, walaupun sudah sedikit berbeda, ya mungkin karena sekarang dia sudah dewasa.

Sejak saat itu, kami sering sms-an, sesekali aku menelponnya, padahal waktu itu untuk menelpon menggunakan hp berbeda operator termasuk mahal. Sekali aku mengejutkannya, aku masih ingat kapan dia ulang tahun dan cerita saat dulu kami masih SMP. Memang ingatan itu tak bisa pergi begitu saja dan selalu ada diingatanku, masa-masa SMP yang dulu aku lewati dengannya. Hubungan kami semakin hari semakin dekat, hingga akhirnya kuputuskan untuk menembaknya kembali dan akhirnya kami jadian lagi. Beberapa bulan berjalan, aku merasa sulit menjalani ini, disatu sisi aku sibuk, disisi lain ada wanita yang harus aku perhatikan. Aku putuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Wita. Satu bulan lebih kami tidak berhubungan sejak aku memutuskan hubungan kami. Akhirnya aku menyadari bahwa aku tak bisa melepaskan Wita begitu saja, aku mengajaknya untuk kembali berpacaran dan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Hubungan kali ini aku rasakan memang berbeda. Aku semakin merasakan keseriusannya dan aku pun harus menunjukkan keseriusanku padanya.

Suatu hari Wita bilang padaku, “kamu mau ga bilang sama mama-papa aku kalo kamu serius sama aku?”. Terdiam sejenak sambil berfikir apakah kali ini Wita benar-benar ingin sebuah hubungan yang serius, dan akhirnya aku meng-iya-kan permintaannya. Entah darimana inisiatif itu datang, aku memberikannya sepasang cincin untuk kami berdua dan benar-benar aku lakukan apa yang dimintanya, aku berbicara tentang keseriusanku pada orangtua Wita. Sejak saat itu hubungan kami semakin membaik, dan aku pun semakin mencintainya. Hal yang paling kusuka dari Wita adalah kejujurannya, walaupun kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi jauh lebih baik aku mengetahuinya langsung dari Wita. Wita lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah di luar negeri, berat bagiku, jarak dari Bandung ke Palembang saja sudah jauh, apalagi harus berbeda negara. Aku pun tak hentinya menyakinkan Wita bahwa kuliah di negara sendiri lebih baik dan banyak universitas di Indonesia ini yang bagus dan berstandar internasional, tapi Wita tetap pada pendiriannya. Ok, aku tidak bisa memaksakannya lagi, itu keinginannya dan aku percaya Wita bisa menjaga semua yang sudah kami bisa selama kurang lebih dua tahun ini.

Beberapa bulan pertama Wita kuliah di luar negeri hubungan kami tetap baik, sampai pada suatu malam Wita bilang padaku bahwa dia menyukai salah satu teman lelakinya yang kuliah dikampus yang sama dengannya. Jujur, itu menyakitkan tapi aku berusaha untuk terus bertahan dan memberikannya waktu untuk bisa mengambil keputusan akan melanjutkan hubungan kami atau dengan cowok itu. Syukur Wita memilihku, tapi sejak saat itu aku sangat takut hali ini terulang lagi, bahkan mungkin aku menjadi cowok yang sangat posesif. Selalu saja ada kecurigaan yang muncul di otakku dan akhirnya hubungan kami pun semakin buruk. Kami sering putus-nyambung dan sering bertengkar, tapi tak satupun kata-kata “putus” itu keluar dari mulutku, karena bagaimanapun aku sudah berjanji padanya bahwa aku tidak akan meninggalkannya.

Hingga akhirnya, kurang lebih tiga tahun hubungan kami berjalan, perpisahan itu adalah ujungnya. Berat memang, hubungan yang kuyakini harus berakhir begitu saja. Meskipun setelah itu aku terus berusaha untuk membawanya kembali padaku, tapi tetap hasil itu nihil.

the notes part 5 - "Bidadari Penikmat Bintang"



Aku memulai kehidupan baru di kampung halamanku. Tak banyak yang aku lakukan, les dan hanya sesekali aku jalan-jalan dengan teman baruku. Mencoba kembali mengenal kota ini, aku merasa seperti tamu di rumah sendiri. Tapi setidaknya aku bisa melupakan Icha sekarang dan mencoba membuka hati kembali. Ada seorang cewek yang sangat sering berkomunikasi denganku, lebih sering dengan sms, Tasya namanya. Sudah lama aku mengenalnya, dia satu sekolah denganku waktu SMA. Butuh waktu lama bagiku untuk memberanikan diri bertemu langsung dengannya, padahal kami satu sekolah dan jarak kelas kami tidak begitu jauh menurutku.

Aku mengenalnya dari temanku, Adi. Saat itu di rumahku, Adi sedang menceritakan sosok Tasya. Menurutnya, Tasya sosok cewek yang asik untuk dijadikan teman berbagi, baik, dan supel. Adi mengenal Tasya karena mereka satu kelas di sebuah lembaga bimbel. Aku tertarik setelah mendengar cerita dari Adi dan langsung meminta nomor hp Tasya. Memang pada waktu itu aku hanya ingin berteman dengan Tasya dan ingin berbagi cerita tentang masalahku, karena selama ini aku hanya memandang sebuah masalah dari kacamata laki-laki, dan aku ingin mendengar apa yang cewek katakan untuk setiap masalah yang aku hadapi.

Malamnya aku langsung sms Tasya, entah apa yang aku tulis dalam sms itu, dan benar Tasya begitu baik, dia menyambut baik sms dariku. Banyak kesamaan dari kami, salah satunya adalah bahwa kami sama-sama menyukai bintang. Ya, benda langit itu memang indah, sampai saat ini aku masih sering memandangi bintang dari atas atap rumahku, bahkan pernah aku sampai ketiduran di atap sampai pagi. Hampir setiap hari kami sms-an tapi belum pernah ketemu sekalipun. Aku tak pernah berani untuk menemuinya. Kalau boleh ge-er, mungkin dia penasaran tentang siapa aku dan suatu pagi dia menanyakan pada temannya yang kebetulan tahu siapa aku. “Jar, lo tahu gak Gugun itu orangnya yang mana?”, tanya Tasya pada Ganjar temannya. “Ya, gw tahu kok. Kalo lo mau lihat dia, tunggu aja di tempat parkir dalam, dia biasanya parkir motornya di sana sekitar jam segini”, jawab Ganjar. Ternyata benar, saat itu aku datang dan langsung memarkirkan motorku, aku melihat ada Tasya duduk di tempat duduk di samping tempat parkir bersama kedua temannya. Aku sangat terkejut melihat dia di sana. Setelah aku memarkirkan motor, aku tidak melepaskan helm full face-ku dan menundukkan kepalaku saat berjalan menuju kelas dan berharap Tasya tidak mengenali wajahku. Dugaanku salah, Tasya mengenaliku dan aku pun mengakuinya bahwa yang pagi itu berjalan didepannya dengan masih menggunakan helm dan sambil menundukkan kepalanya adalah aku. Aku kira begitu Tasya mengenali wajahku, dia tidak mau lagi berteman denganku, karena jujur, aku bukan pria yang punya wajah tampan, tapi ternyata dugaanku salah, kami masih tetap berhubungan dan aku pun akhirnya memberanikan diri untuk menemuinya.

Aku sering pulang pergi Bandung-Lampung saat itu, kedekatan kami pun menjadi lain, kini perasaanku berbeda dengannya, aku menyukainya. Ketika aku sedang di Lampung, aku memberanikan diri mengajaknya jalan, walau hanya untuk sekedar makan di luar. Saat itulah yang kuanggap tepat untuk langsung menyatakan apa yang aku rasakan padanya. Senang rasanya mendengar jawaban yang kuharapkan, kami pun berpacaran sejak saat itu. Kami banyak membahas bintang dan pernah saat aku sedang memandangi bintang, disaat yang sama dia pun memandangi bintang dari rumahnya. Hubungan ini adalah hubungan jarak jauh pertamaku, aku perpendapat bahwa dengan memandangi bintang yang sama dan seolah menggambarkan garis-garis diantara bintang-bintang itu untuk membentuk rasinya, aku harap kami bisa tetap merasa dekat walaupun ada lautan yang membatasi kami. Aku sangat iri dengan bintang, karena bintang bisa mengelilingi dunia dan bisa melihat setengah isi dunia ini yang tidak bisa aku lihat dengan sudut pandangku.

Tapi sayang, hubungan kami begitu singkat, hanya beberapa bulan, itu pun sudah tiga kali putus nyambung. Saat putus untuk yang ketiga kalinya, kami memutuskan untuk tetap bersahabat saja. Ternyata Tasya memang lebih asik untuk dijadikan sebagai seorang sahabat, sahabat wanita pertama yang aku punya. Dan sekarang, hubunganku dengannya mungkin kurang baik. Karena beberapa bulan yang lalu, kehadiranku dalam hidupnya hanya akan menjadi perusak hunbungannya dengan pacar barunya, Bintang. Sebagai seorang pria, aku mengerti perasaan Bintang yang mungkin sangat terusik dengan kehadiranku dan merasa aku mengancam hubungannya dengan Tasya.

Untuk Tasya dan Bintang, aku hanya ingin mengatakan maaf pada kalian. Jika kalian merasa sangat terganggu dengan kehadiranku, aku tidak akan pernah lagi masuk dalam kehidupan kalian.

the notes part 4 - "Di Buku itu"


Sekarang aku sudah kelas 3 SMA, saatnya untuk belajar serius biar bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan. Tapi kenyataannya, malah aku semakin sering main dan jarang pernah ada di rumah. Untunglah nilaiku ga terlalu jelek sampai aku lulus. Menjadi anak kelas 3 juga membuatku menjadi jumawa, terfikir olehku untuk nembak cewe, siapa aja mulai dari kelas 1, 2 dan 3. Aku jomblo saat itu dan aku masih saja mengingat Wita yang entah dimana dia saat itu, kembali melakukan hal yang terbilang konyol, duduk berjam-jam menanti Wita datang di depan rumahnya. Aku pengen ngelupain Wita, dan mungkin salah satu caranya adalah membuka hati lagi untuk cewek lain seperti yang aku bilang tadi, tapi dengan cara ala ABG yang jumawa.

Sasaran pun udah ku tentukan,anak kelas 3 namanya Nina, anak kelas 2 ga ada, dan anak kelas satu namanya Icha. Nina menolakku, kemudian aku langsung mendekati Icha. Waktu itu aku tahu tentang Icha dari teman sekelasku, Irwan. Irwan memang sedang mendekati Icha, dia bilang Icha adik kelasku saat masih di SMP dulu dan sering ada dibelakangku dan Wita saat pulang sekolah. Aku pelupa, ya memang itulah salah satu kelemahanku. Untuk membuatku teringat siapa sosok Icha sebenarnya Irwan mengajakku bertemu dengannya.

Setelah pertemuan itu aku ingat siapa Icha, temanku yang bernama Bio pernah bilang bahwa di SMP dulu ada adik kelas yang cantik bernama Icha, tapi waktu itu aku hanya tertarik pada Wita. Irwan sering cerita kepadaku tentang kedekatannya dengan Icha, dan aku hanya menyimaknya saja, sesekali memberikan sedikit saran kepada Irwan seolah-olah aku ini sangat ahli dalam urusan seperti ini. Hampir setiap hari aku menjadi penyampai pesan salam dari Irwan untuk Icha, kadang Irwan tidak minta pun aku kirimkan salam untuk Icha dengan maksud bercanda. Tapi tak lama setelah dia dekat, Irwan bilang padaku untuk mengurungkan niatnya mendekati Icha, entah apa alasannya. “Jadi sekarang gw bisa masuk nih wan?”, kataku. Irwan pun mengiyakan. Sejak saat itu aku mulai mendekati Icha. Beberapa lama pendekatan, aku menembaknya di cafĂ© lantai atas sebuah mall. Untungnya waktu itu adalah hari rabu, Icha pernah bilang padaku bahwa hari rabu itu hari baik, entah kenapa dia berfikir seperti itu. Mungkin ada benarnya untukku, dia menjawab “iya” saat itu. Hubungan kami ya seperti orang biasanya, ribut dan tawa itu bergantian.

Suatu saat aku berfikir bahwa pasti ada sesuatu hal yang tidak bisa atau sulit untuk diungkapkan, makanya terlintas olehku untuk menulisnya di sebuah buku dan dia membacanya kemudian memjawabnya. Buku hijau itu yang aku maksud. Di buku itu kami menuliskan apa yang ingin kami sampaikan satu sama lain. Sampai suatu hari saat aku datang ke rumahnya untuk mengambil buku itu karena hari ini giliranku untuk membalas apa yang dia tulis dan menuliskan apa yang ingin aku katakan padanya. Ada hal yang tidak biasa saat itu, salah satu jari di tangan kanannya terluka dan dia melarangku membaca buku hijau itu langsung, “bukunya dibaca di rumah aja ya!”, pintanya padaku. Dengan penuh penasaran aku diam-diam membuka setiap halaman dari buku itu saat dia menuju dapur untuk menyiapkan segelas teh untukku. Aku buka buku itu disetiap halamannya karena kami menulisnya dengan acak. Benar-benar mengejutkanku, ada tulisan “I LOVE U” di salah satu halaman di buku itu. Aku terkejut karena tulisan “I LOVE U” itu tidak ditulis dengan tinta tapi dengan darah, aku tahu itu adalah darah, ya aku yakin itu darah. Kututup kembali buku itu seketika dia kembali mengantarkan segelas teh hangat untukku. Untuk sekedar memastikan, aku bertanya padanya, “tangan kamu kenapa?”, “tadi kena pisau pas lagi bantuin ibu masak”, jawabnya.

Aku langsung bergegas ke rumah seorang sahabat untuk menanyakan apa yang harus aku lakukan dengan tulisan ini. Sahabat itu bilang bahwa aku harus serius dengan Icha dan jangan pernah mempermainkannya, dan aku turuti apa kata sahabatku itu. Sejak tulisan itu ada, aku selalu berusaha untuk membuat Icha senang, walau terkadang pertengkaran itu datang. Aku sangat mempercayainya, apapun yang orang katakan. Bahkan pada suatu hari sahabatku tadi memberitahuku bahwa Icha sedang jalan dengan Boy, yang kutahu Boy adalah sahabat Icha yang kebetulan juga adalah teman sekelasnya. “mereka cuma sahabat man”, kataku. Dan banyak kabar-kabar lain yang menyudutkan Icha yang kudengar dari teman-temanku, tak pernah aku hiraukan.

Suatu sore saat aku akan menjemput Icha, saat itu Icha ada les tambahan di sekolah, terjadi pertengkaran diantara kami, hingga membuat hubungan kami berakhir. Sempat aku singgung tentang Boy, tapi Icha menepisnya. Ternyata setelah beberapa lama kami putus, Icha jadian dengan Boy, bahkan hingga saat ini. Tak banyak yang bisa aku lakukan, aku hanya akan mendoakan kebahagiaan mereka. Amin.

the notes part 3 - "Babi - Ngepet"


Senang rasanya masuk ke SMA yang kita idamkan. Aku lulus ke SMA yang termasuk salah satu SMA terbaik di Lampung. Ya setidaknya itu bisa menghiburku setelah kepergian Wita ke Bengkulu tanpa kabar darinya. Aku juga tahu hal itu dari Lili. Terkadang ketika pulang sekolah, aku sempatkan untuk ke depan rumah lamanya, entah apa yang aku lakukan tapi dengan begitu aku merasa bisa sangat dekat dengannya walaupun aku tidak tahu keberadaannya sekarang dan nomor telpon yang bisa aku hubungi. Kadang beberapa menit sudah cukup, kadang hingga 1 jam lebih aku betah menatap depan rumahnya.

Sekolah baru, ya teman baru. Aku duduk bersebelahan dengan Ricky, dia berkacamata dan lulusan sebuah SMA di Jakarta. Pada awalnya aku mengira dia sangat pintar, hal itulah yang memotifasiku untuk belajar dengan giat. Ternyata, maaf bukan maksud menjelek-jelekkan dia, dia tidak sepintar yang aku kira. Mungkin pelajaran bukan keahliannya, tapi kemampuan bermusiknya sangat baik. Aku pun berniat membentuk band dengannya, sambil mencari-cari personel lain. Teman-temanku satu per satu kami ajak bermain di studio dekat sekolah, hingga akhirnya kami menemukan personel lain yang cocok, yaitu Wiryawan, bagi kami bertiga sudah cukup untuk membangun sebuah band, aku pada vocal dan bass, Wiryawan pada vocal dan gitar, dan Ricky pada drum. Saat itu music punk yang sama-sama kami sukai, akhirnya mencari influence seperti Blink182, GreenDay, Rancid, SID, dan lain-lain. Sudah sangat sering kami mengikuti Festival dan Pagelaran music bahkan Pensi sekolah-sekolah dan kampus-kampus.

Okeh, kembali kita bicarakan suasana kelas. Tia, cewek itu duduk tepat didepanku. Entah kenapa kami selalu bertengkar, dan hal itu sudah seperti hal yang biasa bagi kami ataupun teman sekelas lainnya. Pernah suatu saat dia mengejekku babi, sambil berfikir nama hewan apa yang cocok untuk membalas ejekkannya. Terlintaslah nama “ngepet” di otakku, aku mengejekknya begitu. Mungkin karena terlalu sering aku mengejeknya dengan sebutan itu, hingga teman-teman satu sekolah memanggil Tia dengan sebutan itu. Tampaknya Tia pun enjoy dengan panggilan barunya. Hahaha

Hubunganku dan Tia mulai membaik ketika kami sudah kelas 2, mungkin karena kami terpisah kelas dan kesepian ga ada yang bisa diajak berantem lagi satu kelas. Suatu hari pas jam istirahat Tia menghampiriku, entah kenapa dia berubah, mungkin dia sedang ada masalah. Hmm, ternyata benar, dia menjadikanku teman berbaginya untuk menceritakan semua uneg-unegnya. Hampir setiap hari kami ngobrol asik di taman sekolah, sampai gossip itu pun berhembus. Ya, gossip tentang aku dan Tia, gossip itu pun sudah menyebar di sekolah. Banyak yang bertanya apakah kami udah jadian atau belum.

Pernah saat jam istirahat, yang biasanya aku habiskan di kantin belakang sambil menghisap rokok Sampul Mild, hari itu Tia ga datang ke kelasku untuk ngobrol lagi. Akhirnya aku berinisiatif untuk datang ke kelasnya. Hmm, aku dapet alasan yang bagus, aku akan mengambil pin-up Blink182 yang Tia janjikan. Di sela-sela pembicaraan kami, Tia bilang ma aku, “Rey, kita digosipin ma anak2, kita pura-pura jadian tuk? Mau ga?”, tanpa berfikir panjang, aku langsung bilang, “hmm, gw ga mau boongan ah, gw maunya beneran! Gimana?”, “ih serius lo Rey? Janji ya?”, jawab Tia.

Sejak hari itu aku dan Tia jadian, hubungan terlucu yang pernah aku jalani. Ya, teman berantemku waktu kelas 1 malah jadi pacarku sekarang. Seminggu pertama setelah kami jadian, setiap hari Tia selalu bertanya padaku apakah aku serius dengannya, dan selalu kujawab dengan jawaban yang sama, “iya, aku serius kok”. Ada hal lucu yang sampai sekarang aku ingat, waktu itu, setiap hari kami sering bales-balesan surat, padahal jarak kelas kami ga begitu jauh. Surat itu kami tulis setelah pulang sekolah dan kami saling bertukar surat keesokan harinya. Setiap jam istirahat aku langsung menuju ke kelasnya untuk sekedar ngajak Tia makan atau ngobrol, dan saat pulang sekolah aku antar Tia pulang ke rumahnya, kebetulan saat itu aku baru dibelikan motor.Hehehehe

Tapi entah kenapa teman-teman dekatku banyak yang ga setuju dengan hubungan kami, banyak diantara mereka yang menyuruhku untuk segera mutusin Tia. Wah, aku bingung, baru kali ini pikiranku dan teman-teman bertentangan. Salah satu temanku, biasa dipanggil Begal, dia termasuk salah satu dari temanku yang tidak setuju dengan hubungan kami. Pernah dia mencoba mengenalkanku dengan sepupunya waktu itu, Tiwi namanya. Tiwi cantik, pintar dan dari sekolah nomor satu waktu itu. Jujur, aku tertarik dengannya.

Setelah beberapa hari, hubunganku dengan Tiwi semakin dekat, dan aku semakin tidak memikirkan perasaan Tia waktu itu kalo dia tahu ternyata aku dekat dengan cewek lain. Bajingan, mungkin sebutan itu yang bakal keluar dari mulut Tia untukku. Ah, khilaf ini semakin membutakanku. Sampai pada suatu saat ketika aku dan teman-temanku dari klub motor buatan kami sendiri sedang ngumpul, mereka menyorakiku, “putusin Tia! Putusin Tia!”, hahahaha. Saat itu juga aku kabulkan permintaan mereka. Kami rame-rame dateng ke rumah Tia dan kebetulan Tia ada di rumah. Dengan sangat tidak berperasaan, aku memutuskannya begitu saja. Setelah kejadian itu seperti tanpa dosa, aku langsung pergi dengan teman-temanku.

Tapi syukur, hubunganku dengan Tia tidak menjadi buruk setelah kejadian itu, kami tetap berteman, tapi dia semakin lama semakin jarang mau cerita lagi denganku, kadang hanya senyum yang dia tunjukkan padaku saat kami berpapasan. Dan aku melanjutkan hubunganku dengan Tiwi, hingga akhirnya Tiwi memutuskan untuk tidak menerimaku, entah apa alasannya.
Menyesal? Ya, aku sangat menyesal udah nyakitin Tia demi teman-temanku dan untuk mendekati Tiwi, yang akhirnya Tiwi meninggalkanku begitu saja. Aku pikir, mungkin ini karma yang harus aku terima setelah aku menyakiti Tia. Sampai detik ini aku belum pernah lagi bertemu Tia setelah acara kelulusan. Banyak kabar yang aku dengar tentang Tia bahwa dia udah pindah lagi ke Padang, kota asalnya. Dan ada juga yang bilang kalo Tia udah nikah dengan orang lain. Aku ingin membuktikan kabar itu dengan mencoba datang ke rumahnya, ternyata Tia dan keluarganya udah ga tinggal di rumah itu lagi. Sampai detik ini aku ingin bertemu dengan Tia hanya untuk meminta maaf padanya karena kebodohanku waktu itu. Hmm, kenangan dengan “si ngepet” yang sangat meninggalkan rasa bersalah buatku.

the notes part 2 - "Love at the First Sight"


Hari pertamaku duduk di kelas 3 SMP, kebetulan hari itu pun banyak anak kelas 1 yang baru masuk. Suatu hari entah kenapa aku yang biasanya menggunakan sepeda tuaku untuk berangkat ke sekolah, memilih berjalan kaki. Tak lama, aku melihat ada cewek cakep. Aku lihat bet sekolahnya, ternyata dia kelas 1 disekolahku. Wah, aku merasakan hal yang sangat luar biasa yang belum pernah aku rasakan. Mungkin ini yang orang bilang “Love at the First Sight”.
Besoknya, aku yang biasanya ga pernah pake jam tangan, pake jam tangan dan berangkat pagi sekali lalu duduk menunggu cewek itu keluar dari komplek rumahnya yang kebetulan bersebelahan dengan komplek rumahku. Beberapa menit kemudian cewek itu keluar, aku langsung melihat jam dan langsung mengingat kapan cewek itu berangkat ke sekolah, jam 06.30. Ya, itu yang aku ingat. Cewek itu selalu berangkat berdua dengan anak kelas 2 yang ternyata adalah tetangganya. Aku ikuti mereka dari belakang seperti seorang detektif yang mencoba mencari informasi, sesekali aku menguping apa yang mereka bicarakan dengan berharap aku dapat informasi yang berguna.

Setelah beberapa hari aku selalu memperhatikan cewek itu, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya. Kebetulan aku kenal dengan anak kelas 2 yang selalu berangkat ke sekolah bersama cewek itu, Lili namanya. Obrolan dan canda garing mulai kukeluarkan berharap bisa membuat suasana saat itu tidak terkesan menegangkan bagiku. Perkenalan itu pun akhirnya terjadi. “hai, gw Gugun, lo anak kelas 1 ya? Nama lo siapa?”, kataku. Cewek itu jawab, “Wita, iya gw kelas 1”. Wah seneeeng banget rasanya padahal Cuma baru tahu namanya.

Obrolan itu pun berlanjut untuk beberapa hari, hingga akhirnya aku putuskan untuk menyatakan apa yang aku rasakan. Dengan persiapan yang kuanggap matang, aku meminta temanku, Boim untuk menemaniku menjalankan rencanaku, dan ia pun setuju untuk membantuku. Pagi-pagi sekali aku menunggu di jalan yang biasa kami lewati untuk berangkat ke sekolah. Ah, Wita akhirnya datang juga, dengan diiringi detak jantung yang semakin ga karuan, aku lalu mendekatinya. “Wit, gw suka ama lo, lo mau ga jadi cewek gw?”, kataku. Wita Cuma diam sambil menundukkan kepalanya. Aku tanya lagi, “Wit, gw suka ama lo, lo mau ga jadi cewek gw?”, dia masih diam. Lalu aku langsung ke depan wajahnya sambil kedua tanganku memegang bahunya, “Wit, gw suka ama lo, lo mau ga jadi cewek gw?”, kataku untuk ketiga kalinya. Akhirnya Wita menjawab perkataanku, “iya, gw mau”. Lega aku mendengar jawabannya. Entah karena aku bodoh atau memang aku sangat tidak berpengelaman, setelah mendengar jawabannya aku langsung pergi duluan menuju sekolah dengan Boim. Tepat 1 bulan kami berpacaran, Wita memutuskan hubungannya denganku.

Setelah putus beberapa hari, anak kelas 2 tetangga Wita yang selalu berangkat sekolah bareng Wita mengahampiriku saat jam istirahat sekolah. Dia bilang, “ Gun, Wita pengen balikan tuh sama lo, lo mau ga? Kalo mau, nanti pulang sekolah lo tembak dia aja lagi”. Aku jawab, ”wew, kalo dia yang mau balikan ya dia yang ngomong lah, masa gw yang ngomong”. Lili bilang lagi, “lo mau ga? Kalo ga mau yaudah deh”. “eh iya deh gw mau”, jawabku. Pulang sekolah aku menunggu Wita di gerbang sekolah. Aku ngomong lagi deh, aku mau balikan dengan dia. Akhirnya kami berpacaran untuk waktu yang lama.

the notes part 1 - "Cinta Monyet"



Gugun, itu namaku. Sekarang aku sudah menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung, kota kelahiranku. Detik demi detik aku lalui dengan kesendirian. Entah kenapa, justru aku menikmatinya sejak saat itu. Sejak saat itu? Nanti aku ceritakan apa yang terjadi saat itu. Bukan memuji, tapi inilah aku. Aku humoris, penuh tawa, sering melakukan hal gila, bahkan sampai terlalu gila terkadang aku menyakiti perasaan teman-temanku. Aku dibesarkan di sebuah kota di Sumatra, Lampung tepatnya. Ayahku bekerja di sana, kami sekeluarga pun ikut pindah ke Lampung.

Pada saat itu, aku masih berseragam SMP. Aku bersama kedua temanku, Bio dan Erick, ikut bimbel disebuah lembaga bimbel di Lampung. Kebetulan Bio satu sekolah denganku, dan Erick, aku mengenalnya dari Bio. Kami yang tidak tahu apa-apa langsung saja duduk di barisan tengah sebelah kanan dekat jendela dari lantai 2, yang memang enak karena angin berhembus begitu terasa di Lampung yang panas. Tiba-tiba ada 3 orang cewek yang langsung menghampiri kami, dengan tampang marah, mereka bilang, “kalian ngapain duduk disini? Ini tempat kami duduk!”. Bio tiba-tiba menjawab, “kami duduk disini saat kelas masih kosong, jadi ngapain pindah hanya karena kalian? Toh, kami bayar juga seperti kalian, jadi kami punya hak yang sama, kami berhak memilih tempat duduk!”, aku bilang, “udahlah kita ngalah aja, mereka perempuan io”. Bio kembali menjawab, ”kita disini duluan Gun, jadi kenapa harus pindah, kita punya hak milih dimana kita duduk”. Okeh, setelah kejadian itu kami tidak pernah berhubungan baik dengan ketiga cewek itu, hingga suatu hari tanpa disengaja kami naik angkutan umum yang sama dengan ketiga cewek tadi, perbincangan pun dimulai. Entah kenapa tiba-tiba terjadilah obrolan yang seru, kita juga saling tukar nomor telepon, waktu itu yang menggunakan hp masih hanya orang-orang kaya, jadi kita bertukar nomor telepon rumah.

Beberapa minggu setelah itu hubungan kami semakin dekat. Bio yang pertama kali berpacaran dengan salah satu cewek tadi, Astri namanya. Lalu aku dekat dengan Tari dan Erick dengan Ika. Bio yang mengajariku bagaimana untuk menyatakan perasaan kita ke cewek, maklum aku kan belum pernah begitu sebelumnya. Dengan modal duit seribu yang saat itu masih sangat berarti, aku telpon Tari, lalu ngomong apa yang Bio ajarkan kepadaku. Akhirnya kami jadian. Dari kami hanya Bio yang hubungannya bisa bertahan lama. Dan yang tersingkat Erick dengan Ika, hanya 1 minggu. Setelah beberapa lama, aku kembali berhubungan dengan Tari, hingga akhirnya hubungan itu menggantung begitu saja, karena kami jarang sekali bertemu lagi. Malam itu, komplek rumahku dapat giliran pemadaman listrik. Orang tuaku menyuruhku membeli lilin di warung, dengan perasaan kesal karena aku malas disuruh-suruh, aku pergi dengan kencang diatas sepeda tua satu-satunya yang tersisa setelah beberapa kali aku merusak sepedaku. Saat perjalanan pulang tiba-tiba setang sepedaku lepas dan aku pun terjatuh, kecelakaan yang memberi bekas pada bibirku sampai sekarang Karen mencium aspal jalanan yang memang lebih keras dari kemarahanku.

Aku tidak masuk sekolah untuk beberapa hari dan Ayahku yang datang langsung ke sekolahku untuk menyerahkan surat izin aku tidak masuk sekolah. Aku merasakan hal yang luar biasa, ternyata teman-teman sekelas menjengukku ke rumah. Aku tersanjung dengan kedatangan mereka yang bermaksud menjengukku. Hebat, ternyata teman-temanku memperhatikanku. Kemudian, sekumpulan cewek yang termasuk cewek-cewek cantik di sekolahku pun menjengukku, kebetulan aku kenal dengan mereka. Disela-sela pembicaran kami, ada satu cewek yang berbisik padaku, “Gun, kamu mau ga sama Arumi?”, aku kaget, “ah, dia kan teman buatku, sama seperti kalian”, jawabku. Lalu kembali dia bisikkan kepadaku, “ lo milih pacaran sama Arumi atau ga lagi berteman dengan kami?”. Wew, aku kaget mendengar perkataan itu, akhirnya aku meng-iya-kan penawarannya.

Pulang sekolah aku ngomong dengan Arumi, dia pun menerimaku. Ternyata hubungan kami hanya bertahan beberapa bulan. Jujur, aku tidak bisa mencintai orang yang sudah kuanggap teman. Waktu itu hari pertama setelah libur panjang, Arumi datang ke kelasku. Dia bilang, “Gun, kita putus aja ya? Aku ga suka sama cowok yang rambutnya botak”. Karena waktu liburan di Bandung, aku memotong rambutku botak untuk pertama kalinya. Haha, lucu memang, alasan putus hanya karena rambutku yang botak. Tanpa berfikir panjang aku meng-iya-kan kata-katanya, lalu aku meneruskan bermain dengan temanku di kelas seperti tidak terjadi apa-apa.