Selasa, 02 Maret 2010

the notes part 5 - "Bidadari Penikmat Bintang"



Aku memulai kehidupan baru di kampung halamanku. Tak banyak yang aku lakukan, les dan hanya sesekali aku jalan-jalan dengan teman baruku. Mencoba kembali mengenal kota ini, aku merasa seperti tamu di rumah sendiri. Tapi setidaknya aku bisa melupakan Icha sekarang dan mencoba membuka hati kembali. Ada seorang cewek yang sangat sering berkomunikasi denganku, lebih sering dengan sms, Tasya namanya. Sudah lama aku mengenalnya, dia satu sekolah denganku waktu SMA. Butuh waktu lama bagiku untuk memberanikan diri bertemu langsung dengannya, padahal kami satu sekolah dan jarak kelas kami tidak begitu jauh menurutku.

Aku mengenalnya dari temanku, Adi. Saat itu di rumahku, Adi sedang menceritakan sosok Tasya. Menurutnya, Tasya sosok cewek yang asik untuk dijadikan teman berbagi, baik, dan supel. Adi mengenal Tasya karena mereka satu kelas di sebuah lembaga bimbel. Aku tertarik setelah mendengar cerita dari Adi dan langsung meminta nomor hp Tasya. Memang pada waktu itu aku hanya ingin berteman dengan Tasya dan ingin berbagi cerita tentang masalahku, karena selama ini aku hanya memandang sebuah masalah dari kacamata laki-laki, dan aku ingin mendengar apa yang cewek katakan untuk setiap masalah yang aku hadapi.

Malamnya aku langsung sms Tasya, entah apa yang aku tulis dalam sms itu, dan benar Tasya begitu baik, dia menyambut baik sms dariku. Banyak kesamaan dari kami, salah satunya adalah bahwa kami sama-sama menyukai bintang. Ya, benda langit itu memang indah, sampai saat ini aku masih sering memandangi bintang dari atas atap rumahku, bahkan pernah aku sampai ketiduran di atap sampai pagi. Hampir setiap hari kami sms-an tapi belum pernah ketemu sekalipun. Aku tak pernah berani untuk menemuinya. Kalau boleh ge-er, mungkin dia penasaran tentang siapa aku dan suatu pagi dia menanyakan pada temannya yang kebetulan tahu siapa aku. “Jar, lo tahu gak Gugun itu orangnya yang mana?”, tanya Tasya pada Ganjar temannya. “Ya, gw tahu kok. Kalo lo mau lihat dia, tunggu aja di tempat parkir dalam, dia biasanya parkir motornya di sana sekitar jam segini”, jawab Ganjar. Ternyata benar, saat itu aku datang dan langsung memarkirkan motorku, aku melihat ada Tasya duduk di tempat duduk di samping tempat parkir bersama kedua temannya. Aku sangat terkejut melihat dia di sana. Setelah aku memarkirkan motor, aku tidak melepaskan helm full face-ku dan menundukkan kepalaku saat berjalan menuju kelas dan berharap Tasya tidak mengenali wajahku. Dugaanku salah, Tasya mengenaliku dan aku pun mengakuinya bahwa yang pagi itu berjalan didepannya dengan masih menggunakan helm dan sambil menundukkan kepalanya adalah aku. Aku kira begitu Tasya mengenali wajahku, dia tidak mau lagi berteman denganku, karena jujur, aku bukan pria yang punya wajah tampan, tapi ternyata dugaanku salah, kami masih tetap berhubungan dan aku pun akhirnya memberanikan diri untuk menemuinya.

Aku sering pulang pergi Bandung-Lampung saat itu, kedekatan kami pun menjadi lain, kini perasaanku berbeda dengannya, aku menyukainya. Ketika aku sedang di Lampung, aku memberanikan diri mengajaknya jalan, walau hanya untuk sekedar makan di luar. Saat itulah yang kuanggap tepat untuk langsung menyatakan apa yang aku rasakan padanya. Senang rasanya mendengar jawaban yang kuharapkan, kami pun berpacaran sejak saat itu. Kami banyak membahas bintang dan pernah saat aku sedang memandangi bintang, disaat yang sama dia pun memandangi bintang dari rumahnya. Hubungan ini adalah hubungan jarak jauh pertamaku, aku perpendapat bahwa dengan memandangi bintang yang sama dan seolah menggambarkan garis-garis diantara bintang-bintang itu untuk membentuk rasinya, aku harap kami bisa tetap merasa dekat walaupun ada lautan yang membatasi kami. Aku sangat iri dengan bintang, karena bintang bisa mengelilingi dunia dan bisa melihat setengah isi dunia ini yang tidak bisa aku lihat dengan sudut pandangku.

Tapi sayang, hubungan kami begitu singkat, hanya beberapa bulan, itu pun sudah tiga kali putus nyambung. Saat putus untuk yang ketiga kalinya, kami memutuskan untuk tetap bersahabat saja. Ternyata Tasya memang lebih asik untuk dijadikan sebagai seorang sahabat, sahabat wanita pertama yang aku punya. Dan sekarang, hubunganku dengannya mungkin kurang baik. Karena beberapa bulan yang lalu, kehadiranku dalam hidupnya hanya akan menjadi perusak hunbungannya dengan pacar barunya, Bintang. Sebagai seorang pria, aku mengerti perasaan Bintang yang mungkin sangat terusik dengan kehadiranku dan merasa aku mengancam hubungannya dengan Tasya.

Untuk Tasya dan Bintang, aku hanya ingin mengatakan maaf pada kalian. Jika kalian merasa sangat terganggu dengan kehadiranku, aku tidak akan pernah lagi masuk dalam kehidupan kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar